Wanita yang cantik, putih dan mempesona. Masih sangat jelas teriangat oleh ku saat pertama berjumpa dengannya. Sapa lirih diri bibir bidadari kecil itu masih biasa ku dengar. Kebaikkanya tak lagi diragukan, kepolosan bocah yang baru saja duduk dibangku SMP itu menarik perhatianku untuk lebih mengenalnya. Hari demi hari kulalui dengannya, seiring berjalannya waktu ku telah mengenali pribadinya, keluarganya, dan kusukaannya. Sosok yang sangat tepat dalam pencarian ku. Kami mulai memahami, selama kurang lebih satu tahun keakrabanku dengannya tak perlu diragukan lagi Dialah Sahabat Ku. Sejauh ini tidak ada masalah dalam hubungan kami, kami bersahabat layaknya remaja kecil yang masih mencari jati diri. Canda tawa menghiasi hari-hari kami, seakan tidak peduli dengan apa yang akan datang.
Waktu semakin berlalu, hari itu dimana kami terpisah oleh ruang dan waktu namun masih dalam wilayah yang sama. Malaikat kecil ku menemukan sayap barunya. Hanya sehari dalam seminggu aku dapat lebih leluasa tertawa bersamanya. Kenyamanan yang kuberi perlahan terabaikan. Kini kedekatannya dengan yang lain membuatku cemburu namun apa daya ku hanya bisa melihat dari sela jendela kelas yang tak tampak dalamnya. Perasaan kecewa dan pasrah lah yang hanya dapat ku lakukan. Menjalani hari tanpanya. Meski hubungan antara kami tidak terputus dan dia tetap sama, Dialah Sahabat Ku. Dia punya yang lain, dia punya yan baru. Begitu pula dengan ku. Tapi apa? Kedekatan ku bersama yang baru tak menggoyahkan hatinya untuk mempertahankanku. Ketidak peduliannya memmbuatku sadar, bahwa dia [sahabat baru ku] hanyalah pelarian.
Dua tahun berlalu semenjak pertama ku berkenalan dengannya. Kini saatnya aku merubah caraku untuk mempertahankkan Dia Sahabat Ku. Kumasuki kehidupan mereka, tidak untuk meracuninya kembali padaku. Namun untuk mencari tahu dan mempelajari suatu yang baru apa yang mampu meyingkirkan aku dari hatinya. Bukan aku iri, namun aku tidak mau kehilangan dia. Ku masuki kehidupan barunya. Beradaptasi dengan cara hidupnya yang sedikit telah berubah. Persahabatan kami tidak hanya dua orang atau tiga orang namun lima orang,[ Aku, Dia sahabat ku, sahabat baru sahabatku, sahabat baru ku(yang juga teman satu kompleks dengan ku), dan teman sahabat ku]. Perlahan aku dapat berbaur dengan mereka, aku sudah menjadi bagian dari mereka. Merekalah sahabat ku. Namun atak ada yang tahu apa yang terjadi. Perjalanan persahabatan kami cukup panjang dan melelahkan. Sejauh ini tidak ada konflik yang mendalam. Bahakan aku menghargai semua sahabat baru ku yang senantiasa membuka aib-aib ku. Rasa sayangku tiadak berat sebelah. Bahkan rasa ini tidak lagi hanya milik Dia Sahabat Ku namun juga mereka sahabat ku.
Kecerian dan keriangan ini milik kami, melihatnya tersenyum karna leluconku adalah tujuan disetiap hariku. Kerelaan ku membantu sahabat baru sahabatku, dan sahabat baru ku telah menjadi hakku. Membantunya belajar dan memberi saran adalah satu kebanggan. Tidak hanya sekali atau dua kai, bukan bermaksud untuk mengihitung jasa yang aku beri, namun memang suatu kenyataan. Konflik mulai datang saat aku merasa lelah dan jenuh atas tindakan yang seakan memanfaatkan ku. Dalam kesadaranku untuk pertama kalinya aku tidak begitu mempedulikan, dan fakta yang kedua mulai menyadarkan aku untuk mencari tahu kebenaran. Aku memancing mereka dengan mengajukan satu pertolongan yang memang sebenarnya aku sangat membutuhkan bantuan itu. Namun mereka mengacuhkannya mentah-mentah.
Disini aku punya hak untuk marah, karena meraka yang sudah ku anggap sahabat sendiri tidak mau mempedulikan aku. Konflik semakin memanas saat aku tidak mau menegur mereka. Perlahan masalah demi masalah menghampiri, lagi-lagi si manis dari catwalk, sahabat baru sahabat ku itu yang sok-sok tidak ikut campaur. Pura-pura tidak tahu masalahnya. Memang dasar cacingan. Aku dan sahabat baruku mencari cara untuk menyelesaikan konflik-konflik yang ada. Butuh waktu yang lama untuk memulihkan segalanya. Setelah persahabatan kami memulih, lagi-lagi si dia sahabat baru sahabatku membohohongi kami semua, dikira kami bodoh. Dia sahabat baru sabataku tidak tahu kecurigaan ku terhadapnya. Dengan sangat lugu aku mempercayai semua kedustaanya yang dapat ku endusdan disusul dengan kesadaran yang lain. Sedikit demi sedikit aku berpura-pura tanpa diketahui yang lain agar semua misi ku tidak terbongkar. Dan jika sudah cukup bukti aku akan membukanya didepan Dia Sahabat ku.
Hari semakin berlalu, dan hari itu adalah hari yang paling ku tunggu-tunggu. Hari diamana dia, sahabat baru sahabat ku di sidang. Aku tidak terlalu peduli dengan hasil akhirnya. Karna aku sudah memperkirakannya, yaitu aku akan ditolak mentah-mentah oleh dia, sahabat baru sahabatku. Namu aku sangat percaya diri karena apapun keputusan Dia Sahabat Ku mungkin memang yang terbaik. Setelah hari itu berlalau semuanya berubah, kedekatan aku dengan mereka semua perlahan memudar. Bahkan aku tidak pernah menyangka akan berakhir perang dingin seperti ini. Namun dia sahabat baru sahabatku masih cukup rajin untuk menyapaku saat bertemu, yaaa walau ku lihat kemunafikan ada dari hatinya. Banyak sekali kemungkinan tapi aku tak mau memperpanjangnya. Aku mengalah dan menyerah. Aku mundur dari pertempuran persahabatan ini. Karana saat itu bukan saat yang tepat untuk memikirkan persahabatan. Karena gerbang masa depan telah ada didepan mata yaitu Ujian Nasional. Perhatiaan ku selama ini tersita karena urasan yang tak berujung. Dan untung saja aku sadar disaat yang tepat. Diamana aku masih bisa memperbaiki ketinggalan ku.
Setelah kemunduranku, aku dekat dengan yang lain. Kenyaman yang alami, kenyaman yang hilang 2 tahun terakhir. Pertemanan kami jauh lebih menyenangkan dan tulus tanpa persaingan. Pertemanan kecil ini yang dibentuk karena kehancuran masa lalu ini lebih bermakna untuk kami yang juga memiliki cerita kelam dalam persahabatan. Kedekatan ini menyita perhatian ku dan tak lagi aku peduli dengan mereka mantan sahabatku, dan Dia Sahabat Ku telah ku relakan pergi, meski hati ini tetap ada untuknya. Pertemanan ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sangat menyenagkan. Namun ku akui antara ketiga pertemanan ku di awal hanya dengan Dia Sahabat ku, Mereka mantan sahabatku, dan pertemanan baru. Memilki arti masing-masing dalam hidupku.
Kebahagaian ini tidak lagi dibayang-bayangi rasa bersaing. Semua berjalan seperti air. Bahkan pertemanan ini belum pernah ku bayangkan sebelumnya. Sangat lucu mengingat masa itu. Dikala itu bertemu dengan Dia Sahabat Ku saja, aku memalingkan muka seakan tidak pernah kenal sebelumnya, walau dalam hati yang paling dalam ada rasa penyesalan dan ingin lagi bersahabat seperti dulu. Kehidupan ku yang tenang ini berlangssung hingga aku mendengar berita kepergian Ayahanda dari Dia Sahabat Ku, aku kembali terhenyak, seakan terbangun dari mimpi indah dalam tidur beberapa bulan. Disaat seperti ini aku merasa tersentuh untuk berbagi rasa kepedihan yang mendalam dengan nya. Aku turut mengucapkan bela sungkawa dan meminta maaf atas keselahanku telah berusaha ingin melepasnya.
Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri aku masih sangat menyayangi Dia sahabat Ku sampai pada akhirnya aku mendapat kabar darinya langsung bahwa Dia Sahabat Ku akan pergi keluar kota, tempat dimana Ayahnya dimakam kan. Dan dia berniat melanjutkan Sekolah Menengah Atas di luar kota. Semenjak saat itu hubungan kami membaik perlahan-lahan. Meski aku belum bisa menghapus luka terdalam ku tempo dulu. Aku sering mendengar Dia Sahabat Ku masih berhubungan dengan dengan sahabat baru sahabat ku, kabar itu ku dengar lewat sahabat baru ku kala itu. Cukup kecewa, tapi apa boleh buat itu adalah hak Dia Sahabat Ku. Persahabatan ku denagn mereka sahabat ku membaik kecuali dengan sahabat baru sahabat ku. Terakhir berhubungan dengannya sahabat baru sahabat ku adalah melalui situs jejaring sosial, aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya karena aku mera adanya penolakan terhapap ku. Jadi untuk apa dipertahankan. Bahkan persaiangan antara kami masih dapat aku rasakan.
Aku menjalani persahabatn lebih dari satu ikatan, yang pertama dengan mereka sahabat ku, kedua pertemanan baru masa dulu, dan persahabatan dengan sosok yang cuek teman sekelas ku, serta ikatan persahabatan karena ketidak sengajaan yanag terjalin antara aku dan semua teman-teman baruku juga teman-teman lama ku masa di SMP. Cukup menyenangkan memiliki banyak sahabat. Namun aku sadar tidak semua persahabatan yang aku jalani ini akan berakhir menyenagkan. Namun aku akan menjalaninya seiring berjalannya waktu. Tanpa melawan arus kehidupan.
6 bulan setelah kepergiannya keluar kota, Samapai akhirnya tiba dimana hari ulang tahaun Dia sahabat Ku, memang aku tidak mengucapkan selamat untuknya, namun dalam hati ku aku berdoa untuk kebaikannya. Namun dilura dugaan ku, dia sangat mengharapkan ucapan selamat dan doa secara langung keluar dari mulut ku khusus untuknya. Terbukti lewat situs jejaring sosial juga dia menanyakan secara langsung apakah aku melupakan hari istimewanya??. Dengan tegas aku menjawab tidak, serta meminta maaf dengan alasan aku tidak mau mengingat masa yang kelam. Sebenarnya tidak logis namun aku hanya mencari aman sendiri. sejujurnya aku melakukan iitu karna aku memang sengaja melakukannya.
Kedekatan kami kembali normal jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia sering menghubungi aku dan bercerita tentang dirinya. Namun pernah pada suatu ketika dia dalam perbincangan kami dia membicarakan tetang sahabat baru sahabat ku itu, jujur aku cemburu, namun untuk menghargai Dia Sahabat Ku, aku mendengarkannya dan member respon semampu ku. Sampai tiba akhinya memuncak kejenuhan ku dengan semua sikapnya yang sangat mempedulikan sahabat baru sahabat ku itu, dengan tegas aku menuntutnya. Untuk lebih focus terhadap diri ku. Karna memang sikap dia yang cepalas-ceplos dan tadak peduli situasi kondisi seperti apa dia mengumpan balik pernyataan yang sama terhadap ku dengan sikap ku pasa sahabat baru ku. Dengan sangat lantang aku menjawab itu dengan penyataan umpan balik yang sebelumnya dia lontarkan. Saat itu hubungan kami krmbali tidak harmonis, tapi tetap berulang kali aku menangis karena Dia sahabat ku, ntah apa yang ku tangisi.
Hubungan kami terputus sampai akhirnya aku merasa rindu akan dirinya dan mengantar pesan pendek, ternyata dia sibuk dengan kegiatan disekolahnya yang cukup padat. Apa boleh buat lagi-lagi aku hanya bisa pasrah terkalahkan oleh keadaan, sampai akhirnya Dia Sahabat Ku menelponku kembali. Namun betapa sakitnya aku mendengar jawaban dari pernyataan ku bahwa aku merindukan sosoknya dalam diri ku. Dia mengatakan bahwa dia tidaak sedang merasakan hal yang sama dengan ku. Aku menjawabnya dengan kata ketidak pedulian ku terhadap perasaanya saat ini. Dan menyatakan yang penting aku kangen kamu. Lagi-lagi sejak saat itu hubungan kami terputus. Ya, karna kesibukannya. Dan aku mengantar sebuah pesan pendek berkali-kali dan mencoba menghubunginya namun jawabannya nihil. Tidak ada jawaban, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mmenghubunginya lewat jejaring sosial mungkin itu cara terakhir dia menjawab semua pesanku.
Dan benar dia sibuk dengan segala kegiatan sekolah, ditambah dua minggu terakhir kondisinya sedang tidak fit. Dan aku mengirim lagi pesaan pendek yang bisa dibilang cukup nekat. Yaitu pesan yang menyatakan “ aku tahu aku bukan satu-satunya, tapi egoiskah aku ingin menjadi yang utama? Salah kah aku ingin menjadi yang pertama?”. Dan yang sangat mencengangkan adalah jawaban dirinya dengan menyatalan maaf ketidak sanggupannya memenuhi itu. Sebenarnya aku tidak membutuhkan jawabannya, namun lagi-lagi air mata ku terjattuh. Aku menangis dalam keheningan. Ini adalah air mata yang kesekian kalinya terjatuh karena Dia Sahabat Ku.
Setelah beberapa hari, Sampai tibalah malam ini dia yang yang mencoba untuk menelpin ku. Namun tiba-tiba mati. Karena kau pikir penting, aku mencoba menghubunginya balik, namun apa? Dia meriject telpon ku. Ku pikir dia memang tidak sengaja tadi mekekan nomorku. Sehingga ku acuh kan karna aku tak mau menangis untuk hari ini. Karna aku sedang flu, akan sangat menggangu jika aku menangis dalam keadaan seperti ini. Sejujurnya aku adalah tipe orang yang paling susah mengelurkan air mata. Namun ada dua hal yang beberapa tahun terakhir sering membuatku menagis yang oertama karena keluarga, kedua karena sahabat. Dan aku mendapat pesan singkat yang menyatakan kerinduannya. Dan suatu rahasia yang ingin dikatakannya. Dalam seketika hatiku tergugah untuk lekas-lekas membalas pesan itu. Dia pun membalas kembali. Sampai akhirnya Dia Sahabat Ku menelpon ku. Dan meneceritaka semua yang ingin dia ceritakan. Saat ini aku benar-benar merasakan kehadiranya kembali. Dan aku masih dibutuhkan olehnya. Mungkin selama ini aku terlalu menuntut dan membebaninya, tapi itu kulakukan karna aku takut kehilangan. Sekaarang aku janji untu percaya dan tidak lagi mudah berprasangka buruk terhadapnya. Dia Memang Sahabat Ku. Kini dia telah timbuh menjadi bidadarai yang dewasa yang sangat membabggakan seta dia punya kehidupan sendiri.
Namun DIA TETAP SAHABAT Ku
Note :
Cerita ini hanyalah khayalan belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar